Harian Umum Radar Karawang
Aksi Akbar Berakhir di Cikuntul
Fri, 17 Aug 2018 04:00:00 +0000
TEMPURAN, RAKA - Meski baru berusia 14 tahun namun Mohammad Akbar, yang juga warga Tanjung Priok, Jakarta Utara ini sudah pandai mencuri motor. Namun, upayanya kali ini di Dusun Kosambi Rangrang, Desa Cikuntul, Kecamatan Tempuran,  berhasil digagalkan warga setempat. Akibatnya, pemuda tanggung inipun harus berdarah-darah setelah dihakimi massa.

Informasi yang dihimpun Radar Karawang menyebutkan, peristiwa terjadi sekitar pukul 17.00 Wib. Saat itu Akbar, warga Kampung Muara Bahari RT 002/014 menyaksikan Honda Beat warna merah dalam keadaan terparkir di depan warung di Dusun Rang Rang. Sementara kunci kontak motor tersebut masih tergantung di motor. Menyaksikan situasi amat memungkinkan, pelaku lantas melancarkan aksi, setelah sebelumnya memastikan kondisi dalam keadaan aman. 

Tetapi sial, situasi yang disangkanya aman ternyata tidak. Baru saja akan menghidup motor, aksinya diketahui warga sekitar. Keruan saja wargapun bertindak. Akbar yang belum sempat menghidupkan motor langsung diringkus warga. Akbar tidak berdaya ketika menjadi bulan-bulanan kekesalan warga. Untungnya sebelum kekesalan warga memuncak petugas keburu datang ke lokasi kejadian dan langsung mengamankan Akbar.

"Pelaku tertangkap warga dan sebelum kita amankan sempat diamuk massa," ucap Kapolsek Tempuran, AKP Nana Sutisna, Selasa (14/8) malam. Akbar sendiri diamankan tidak jauh dari warung tempat dia beraksi. Dihadapan petugas Akbar mengaku sudah tiga kali melancarkan aksi pencurian motornya di wilayah Karawang, termasuk Cikampek dan Kotabaru.

Diakui Akbar, selain aksi terakhirnya, pelaku sebelumnya berhasil menggasak sepeda motor jenis Honda Beat warna hitam di wilayah Cikampek. Kemudian di wilayah Kotabaru juga sukses mencuri Honda Beat warna merah, hingga kemudian aksi terakhir di Tempuran yang nyaris membuatnya kehilangan nyawa. "Rata kejadian motor korbannya selalu dalam terparkir di depan warung," ujar Kapolsek.

Kapolsek juga menuturkan dalam setiap aksinya pelaku selalu bertiga dan menggunakan motor bonceng tiga. Termasuk aksi terakhirnya itu. Dari ketiga pelaku yang mengenakan helm cuma pengendara motornya. Sedang Akbar bersama satu teman tidak mengenakan helm. Akbar sendiri bertugas sebagai pemetik sementara seorang pemantau situasi dan satunya standby diatas motor. "elaku 3 orang, 1 motor bonceng bertiga, 1 pakai helam yang 2 tidak," kata Kapolsek Nana.
Kapolsek menambahkan dari hasil pencuriannya di tiga lokasi tersebut motor hasil curian dijual ke daerah Cilempung, Kecamatan Cilamaya Wetan. Pihak kepolisian sendiri saat ini sedang menghubungi para korbannya untuk kepentingan penyidikan. (rud)
Anggota DPRD tak Banyak Dikenal
Thu, 16 Aug 2018 10:51:00 +0000
RAWAMERTA, RAKA- Hampir semua masyarakat tahu dan telah mempersiapkan diri menjelang pemilihan calon legislatif. Namun tak sedikit juga masyarakat yang tidak tahu akan wakil rakyat yang menjabat di daerah pemilihan (Dapilnya) sendiri.

H A Rahman, warga Desa Kutawargi, mengaku hanya mengenal 3 orang anggota DPRD di dapil 2, H Asep Ibe dari partai Golkar, dan H Rifai dari Partai Demokrat. "Paling ketuanya yang di DPRD itu, Pak Toto dari PDI. Itu saja," katanya.

Sementara yang ia tahu dan rasakan kemanfaatannya bagi masyarakat Rawamerta yaitu salah satu dewan dari Golkar, H Asep Ibe. Karena dapat dirasakan aspirasinya, utamanya aspirasi infrastruktur. "Katanya sih mau nyalon lagi, dan saya rasa layak juga kalau dipilih lagi," ucapnya.
Jika harus memilih, dirinya lebih memilih calon anggota dewan yang lama, dan dapat dirasakan kemanfaatannya bagi masyarakat. "Kalau yang baru belum tentu bisa. Masalah visi misi mah gampang, anak SD juga bisa," tegasnya.

Sementara itu, Badru Jamaludin, warga Desa Jayamakmur, Kecamatan Jayakerta, ia mengaku tidak banyak mengetahui siapa saja anggota dewan di Karawang. Selain kurang begitu tertarik terhadap politik. Ia juga beralasan jika anggota dewan jarang yang langsung menemui masyarakat. "Paling sama Dewan Neneng dari PKB aja yang saya tahu," akunya.

Adapun calon satu-satunya yang ia tahu yaitu H Ayi dari partai PKB. Selebihnya ia mengaku tak banyak yang tahu. Apalagi banyak pendatang baru yang asing baginya untuk dikenal. Fahir, warga Desa Sindangkarya, Kecamatan Kutawaluya mengaku hanya tahu anggota dewan dari Gerindra yakni H Endang Sodikin, dan Gina Swara karena memang putrinya Bupati terdahulu. "Paling kalau yang mencalonkan saya hanya tahu Aab Abdurahman dari PKB karena memang simple dan supel, dan Asep Isak PKB juga. Yang lain tak begitu tahu," pungkasnya. (rok)
Guru SD Ikut Sosialisasi Tertib Lalin
Thu, 16 Aug 2018 10:48:00 +0000
CIAMPEL, RAKA - Berbagai cara dilakukan oleh pihak kepolisian untuk menciptakakan ketertiban lalu lintas. Salah satunya adalah dengan melakukan pembinaan dan mensosialisasikan tertib berlalu lintas kepada guru SD dan mahasiswa.

Kapolsek Ciampel Ricky Adi Pratama, menurunkan personilnya Kanit Binmas Aiptu Ujang Rahmat dan Bhabinkamtibmas Bripka Koko Sudrajat, kegiatan dihadiri oleh seluruh Guru SD Mulyasari dan mahasiswa Universitas Unsika yang tengah melaksanakan KKN. "Kegiatan diisi dengan penyampaian materi dengan tema pelopor keselamatan berlalu lintas," ujar Kanit Binmas Aiptu Ujang Rahmat.

Rahmat menyampaikan, tema tersebut diambil dikarenakan saat ini banyak pelajar yang menggunakan kendaraan bermotor namun masih banyak diketahui tidak melengkapi kendaraan yang ada, baik perlengkapan pengendara maupun surat surat resmi. "Belum lagi banyaknya anak muda yang kebut kebutan dijalan sehingga dengan diberikan pengetahuan tertib berlalu lintas diharapkan pelajar akan lebih sadar dalam berlalu lintas dan mengikuti peraturan yang ada," ujarnya.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab dan diharapkan dengan dilaksanakannya kegiatan rutin sosialisasi tertib berlalu lintas, pelajar di wilayah Ciampel semakin tertib. "Keinginan kami selain pelajar bisa tertib berlalu lintas juga berprestasi di segala bidang," pungkasnya. (zie/pol)
Data Perekaman KTP Lamban
Thu, 16 Aug 2018 10:47:00 +0000
KLARI, RAKA - Lambannya proses pencetakan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) di Kabupaten Karawang membuat pemerintahan desa menjadi bulan-bulanan warga. Seperti yang terjadi di Desa Duren, banyak warga yang merasa kecewa atas hal tersebut.

Salah satu warga yang mendatangi kantor Pemerintahan Desa Duren adalah Ana Sumarna. Ia harus segera memiliki KTP elektronik untuk bisa mengambil Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). "Nganterin berkas untuk bikin KTP," kata Ana di lingkungan kantor Kades Duren, Rabu (17/8).
Pegawai Desa Duren Lili Sukarli mengakui sering mendapatkan komplain dari warga yang merasa kesulitan membuat KTP. Karena ada perbedaan yang signifikan jika dibandingkan pembuatan KTP beberapa bulan lalu. Padahal yang memiliki kewenangan soal KTP-el adalah Disdukcatpil. "Kalo sekrang, setelah direkam, datanya baru masuk sekitar satu bulan, makanya bisa dibuatkan suketnya setelah datanya masuk ke server," terang Lili.

Padahal, tambah Lili, banyak warga yang melakukan perekaman KTP untuk bisa segera mendapatkan KTP tersebut, minimal mendapat surat keterangan (Suket) dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcatpil). "Mereka yang bikin pasti punya kebutuhan mendesak, kayak yang mau kerja, mau pinjam uang, mau ngambil program BPNT atau bahkan mau daftar BPJS," jelasnya.
Kasi Pengolahan data dan penyajian Data Disdukcatpi Karawang Haerachman menyampaikan, banyak keluhan mengenai pelayanan pembuatan dokumen kependudukan baik Disdukcapil maupun kecamatan. "Keluhannya hampir seragam yakni seputar masalah penunggalan nomor induk kependudukan," ucap Haerachman.

Demikianpun, Haerachman menyebutkan, terhadap persoalan itu tidak bisa ditudingkan kepada Disdukcapil maupun kecamatan. Karena untuk hal itu masalahnya justru ada di pusat. "Soal penunggalan nomor induk kependudukan masalahnya bukan di daerah melainkan di pusat, dan kita di daerah harus menunggu antrean," ujarnya.

Ia juga menyampaikan, untuk masyarakat yang setelah perekaman langsung mendapatkan Suket itu merupakan keberuntungan yang baik bagi pemohon dokumen tersebut. Sebab proses penunggalan NIK di KTP-el tidak bisa diprediksi cepat maupun lambat. "Penunggalan itu kadang cepat kadang juga lama. Sebab antrean yang masuk semuanya menuju ke pusat, bukan hanya dari Karawang tetapi se Indonesia," terangnya.

Bagi pemohon Suket pengganti KTP yang bersifatnya urgen, kata Haerachman, bisa menggunakan suket yang bersifat bukan sebagai pengganti KTP, tetapi Suket yang sifatnya menerangkan jika pemohon sudah melakukan perekaman. "Suket bisa keluar setelah dilihat data yang dilakukan pemohon apakah sudah dapat penunggalan atau belum. Jika sifatnya urgen bisa dibuatkan suket manual tetapi fungsinya terbatas. Suket manual sifatnya pemberitahuan jika yang bersangkutan telah melakukan perekaman," ujarnya.(zie)
Dilarang, Situ Kamojing Tetap Ditanami Padi
Thu, 16 Aug 2018 10:46:00 +0000
CIKAMPEK, RAKA - Jika musim kemarau tiba, saat situ Kamojing tengah kering, sudah menjadi langganan masyarakat sekitar untuk menggarap lahan situ sebagai sawah.

Nursyaim, juru pengairan situ Kamojing menyampaikan, sejak ia bertugas di sana, masyarakat desa Kamojing khususnya yang bertempat di sekitaran situ dipastikan akan menjadikan situ sebagai lahan sawah saat situ sedang kering. Padahal pihaknya sudah melarang warga sekitar agar tidak menjadikan situ sebagai sawah. "Kita sudah melarang warga yang menanami padi, namun tetap saja tidak didengar," katanya kepada Radar Karawang, Rabu (15/8).

Secara aturan, lanjut dia, lahan seluas 25 hektare itu tidak dibolehkan untuk digunakan sebagi lahan pesawahan. karena lahan itu merupakan lahan genangan untuk penampungan air. "Secara aturan tidak diperbolehkan, tapi kami juga bingung harus gimana," tambahnya.

Menurutnya, berbagai cara sudah lakukan untuk melarang warga, mulai dari pemasangan papan larangan, peneguran secara langsung kepada warga dan menyampaikan kepada ketua RT, namun warga tetap menanami lahan situ tersebut. Padahal, mereka sudah sering mengalami kerugian karena sebelum padinya bisa dipanen, lahan tersebut sudah dipenuhi lagi oleh air. "Larangan kami sudah lakukan dengan berbagi cara, kalau ke kepala desa memang belum koordinasi," ujarnya.

Nursyaim berharap, masyarakat bisa mengerti dan memahami bahwa di lahan tersebut memang tidak diperbolehkan untuk ditanami padi. sehingga kedepannya walaupun situ sedang kering tidak ada masyarakat yang menjadikan situ tersebut sebagi sawah. "Saat ini kami sudah laporan ke atas, ke seksi tarum walahar. Semoga masyarakat bisa ngerti," pungkasnya.

sementara, Charim Kepala Desa Kamojing belum memberikan tanggapan. Saat didatangi ke kantornya, ia tidak ada di tempat, bahkan meski sudah dihubungi via telepon tidak ada jawaban. (cr2)
Wancimekar Lamban Serap Anggaran
Thu, 16 Aug 2018 10:45:00 +0000
KOTABARU, RAKA - Diberlakukannya aplikasi Sistem Keungan Desa (Siskeudes) membuat para perangkat desa kesulitan untuk membuat proposal penggajuan dana desa. Akibatnya penyerapan anggaran yang seharusnya bisa dilakukan cepat oleh pemerintahan desa tersendat.

Muchlisin, Sekretaris Desa Wancimekar menyampaikan, proposal pengajuan dana desa tahap 1 baru akan diajukan tanggal 25 Agustus 2018. "Kita belum pengajuan. Minggu depan baru diajukan tanggal 25 Agustus," kata sekdes saat ditemui di ruang kerjanya.

Menurutnya, keterlambatan pengajuan dana desa tahap 1 dikarenakan banyaknya proses yang harus ditempuh. "Survei harga juga harus ke 3 material untuk bahan perbandingan, sementara pemilik matrial juga kan pasti kurang respon kalau cuma nanya-nanya," tambahnya.

Selain itu, lanjut sekdes, aplikasi siskeudes juga menjadi faktor penyebab molornya pengajuan dana desa tahap 1. Karena dalam aplikasi tersebut proses pengisiannya cukup membutuhkan waktu yang lama. "Kalau manual kan gampang bisa copas, tinggal merubah lokasi sama volumenya. Kalau sekarang susah soalnya di siskeudes banyak kolom-kolom pengisian," ujarnya.

Masih disampaikan Muchlisin, dana desa tahap 1 yang akan diajukan sebesar Rp180.883.140. Dana tersebut akan dialokasikan untuk tata kelola pemerintahan desa, biaya penyertaan modal BUMDes, serta biaya pendidikan dan kesehatan. "Untuk kesehatan kita membangun posyandu di dusun cariu, kalau pendidikan kita memberikan bantuan pengadaan alat untk 10 PAUD," pungkasnya. (cr2)
Sudah Terpilih Sering Lupa
Thu, 16 Aug 2018 10:44:00 +0000
PURWAKARTA, RAKA - Bermacam tanggapan hadir terkait anggota dewan dalam melaksanakan tugasnya. Kali ini, tanggapan tersebut hadir dari sosok satpam salah satu perusahaan, Ari. Pemuda asal Desa Sirnagalih, Kecamatan Maniis ini menilai, bahwa anggota DPRD saat ini dirasa cukup bagus dalam menjalankan tugasnya. Ia juga menilai banyak kegiatan yang telah dilakukan.
"Pasti sudah banyak melakukan fungsinya, seperti pengawasan dan penganggaran. Kalau Pemda banyak kegiatan, kan diawasi dulu sama dewan," terang dia, kepada wartawan.

Dia juga mengaku, sewaktu pileg dulu memilih calon anggota DPRD yang sekarang menjabat sebagai ketua komisi empat. "Dulu sih milih Dendri, karena sering berkunjung ke Maniis ditambah lagi punya kedekatan yang lebih terhadap Dedi Mulyadi, yang saya denger dulu sih gitu," papar dia, sewaktu diwawancarai wartawan.

Dia juga mengaku, sesudah pemilihan pihaknya tidak mengikuti lagi perkembangan DPRD. "Gak tahu lagi sesudah pemilihan. Yang udah-udah juga kalau udah jadi mah suka lupa. Jadi sesudah pemilihan mah gak tau," terang dia.

Dia juga mengatakan, untuk kinerja dewan saat ini kurang dirasakan oleh masyarakat mengingat kebijakan yang dikeluarkannya. "Rasanya sih gak ada kebijakan yang pro rakyat, gak tahu sayanya yang kurang tahu. Tapi kalau dilihat anggota dewan kerjanya apa juga masyarakat kebanyakan gak tau,"imbuhnya.

Dia juga berharap untuk pileg selanjutnya semoga banyak calon yang berkualitas, karena saat ini fungsi dewan dianggap kurang dalam kinerjannya. "Semoga saat ini banyak calon yang mempunyai keahlian dan faham betul bagaimana menjalankan tugasnya, bukan hanya seremonial tapi betul-betul berpihak kepada rakyat," pungkasnya. (ris)
Lebih Banyak Diam Daripada Kerja
Thu, 16 Aug 2018 10:43:00 +0000
PURWAKARTA, RAKA- Mendekati pemilihan legislatif (Pileg) tahun 2019, tentu sudah ada yang
dilakukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selama lima tahun menjabat.
Annisa Zahrah Dwinayata, salah seorang pemudi asal Desa Citalang menilai, kinerja anggota dewan saat ini lebih banyak diam dari pada kerja. "Kalau misalkan dilihat dari berita ada yang bilang anggota dewan banyak diemnya daripada kerjanya, terus numpang nama doang," terang dia kepada wartawan.

Dia juga mengatakan, untuk anggota DPRD yang tengah menjabat saat ini dirinya tidak mengenal satupun, malah lebih mengenal anggota DPRD di Cianjur. "Kalau di Cianjur ada yang kenal namamya Haji Dedih, cuman anggota untuk di Purwakarta pada gak tau," paparnya.

Dia juga mengatakan, untuk anggota dewan saat ini tak layak lagi dipilih, karena banyak calon baru yang dianggap lebih kompeten. "Untuk memilih lagi anggota yang sekarang kayanya engga deh. Ada calon baru yang bakal aku pilih," terang dia.

Dia juga berharap, kedepannya anggota DPR lebih bisa dan tahu bagaimana kinerja dewan sehingga bisa bertanggung jawab. "Harapannya agggota DPRD lebih tahu tentang bagaimana kinerja dewan, sehingga status wakil rakyat bisa dipertanggung jawabkan untuk rakyat yang diwakilnya," paparnya.
Sementara itu, salah seorang guru Sekolah Dasar (SD), swasta bernama Cecep menganggap anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), saat ini masih layak untuk dipilih. Hal tersebut mengingat sudah banyak kegiatan yang telah dilakukan oleh anggota dewan. "Kita lihat saja kebijakan Pemerintah Kabupaten Purwakarta yang sudah banyak digelar, itu kan harus ada persetujuan dewan dulu, berarti anggota dewan sudah banyak bekerja," terang dia, saat dikonfirmasi wartawan.

Dia juga mengatakan, di pemilhan legilatif tahun 2019 nanti dirinya akan memilih anggota dewan baru. "Anggota dewan gak semuanya bagus. Ada juga yang kinerjanya cuma ikut-ikutan, memang kita harus cerdas memilih pas pileg nanti," paparnya.

Dia juga mengatakan, untuk anggota dewan yang dikenalinya hanya ketua DPRD saja beserta komisi 4 yang membidangi pendidikan. "Kenalnya hanya ketua DPRD saja, karena sering lihat berita yang muncul pasti nama ketuanya, dan komisi yang menanungi pendidikan seperti kang Alek, atau kang Dendri," imbuh Cecep.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk kinerja Ketua DPRD dirasa bagus sudah ada rancangan peraturan daerah (Raperda) yang dibahas hasil paripurna. "Kemarin lihat di media sudah ada pengesahan raperda lagi, kinerjanya dirasa cukup. Namun untuk bidang pendidikan masih harus dioptimalkan lagi mengingat masih banyak anak Purwakarta yang tak selesai wajib belajar sembilan tahun," pungkasnya. (ris)
Kaget King Kobra Melingkar di Dapur
Thu, 16 Aug 2018 10:42:00 +0000
PURWAKARTA, RAKA - Seekor ular mematikan jenis king kobra gegerkan warga Kampung Gandaria RT 17 RW 08, Desa Nagrak, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta. Ular itu ditemukan melingkar di dapur salah satu rumah warga di wilayah itu.

Dari informasi yang berhasil di himpun Radar karawang, Awalnya, ular tersebut ditemukan oleh pemilik rumah, Hamamik (45) yang hendak pergi ke dapur. Saat tiba di dapur, Hamamik sontak terkejut melihat sosok hitam melingkar mencurigakan yang ada di bawah meja kompor. Diduga ular tersebut, datang dari hutan masuk ke pemukiman penduduk lantaran musim kemarau. Sementara karena tak berani menghampiri Hamamik kemudian langsung bergegas keluar rumah meminta pertolongan tetangga. Di rasa membahayakan warga kemudian melaporkan penemuan ular ke petugas pemadam kebakaran (Damkar).

Menurut keterangan, Kepala Dinas Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Purwakarta Wahyu Wibisono, melalui Kepala UPTD Wilayah operasi I Damkar Purwakarta, Nanan Sunandar, mengatakan, ular tersebut sempat melawan saat akan dievakuasi. "Awalnya kami menerima laporan dari salah satu tentang adanya penemuan ular tersebut, lalu kami pun segera mendatangi lokasi dan mengevakuasi ular itu," jelasnya, Rabu (15/8).

Nanan mengatakan, dibantu warga ular ular yang diperkirakan memiliki panjang 3 meter bisa dijinakan dan evakuasi ke

markas komando (Mako) Poswil I Damkar Purwakarta. "Kemungkinan besar ular ini akan dijinakan dan dipelihara oleh salah satu tim kami yang memang kebetulan dia seorang penjinak ular mematikan," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, pihaknya tidak lupa meminta warga untuk berhati-hati dengan hewan mematikan. Selain itu, di musim kemarau seperti saat ini dia juga menghimbau warga, agar tidak melakukan hal hal yang berpotensi pada sebuah kebakaran. "Waspada, bagi warga tolong jauhi segala hal yang dapat menyebabkan kebakaran. Salah satunya seperti tidak membakar sampah di tempat yang dianggap rentan terhadap penyebaran api," ujarnya. (gan)
Pemain Timnas U-16 Disambut Bak Pahlawan
Thu, 16 Aug 2018 10:42:00 +0000
PURWAKARTA, RAKA- Pulang Kampung, ima punggawa Timnas Indonesia U-16 mendapat sambutan meriah dari warga Purwakarta. Mereka diarak keliling kota dengan rangkaian kendaraan mencapai 1 KM lebih. Dari gerbang Tol Jatiluhur, arak-arakan bergerak menuju Kantor Dinas Pendidikan Purwakarta, di Jalan Veteran.

Sejak pagi, warga dan para pelajar sudah menunggu para pemain jebolan ASAD Jaya Perkasa Purwakarta itu. Mereka berbaris rapi di kiri kanan jalan untuk memberikan apresiasi karena telah menjuarai Piala AFF U-16. Bendera merah putih sengaja mereka bawa dari rumah masing-masing. "Saya bawa anak-anak, sengaja biar mereka termotivasi. Kalau sudah besar nanti jadi gak takut bersaing. Buktinya, anak ASAD juga bisa,” kata Nurul (28), seorang ibu muda di Jalan Basuki Rahmat. Tepatnya, Kelurahan Sindang Kasih, Purwakarta, Rabu (15/8).

Yel yel ‘Siapa Kita? Indonesia’ terdengar riuh di sepanjang rute arak-arakan. Warga dan pelajar terinspirasi dari salah satu komentator sepakbola di teve nasional yang sering membawakan yel tersebut.

Ketua KONI Purwakarta sekaligus pembina dan pendiri ASAD Jaya Perkasa Dedi Mulyadi menjelaskan, peristiwa bersejarah ini merupakan bentuk rasa syukur warga Purwakarta atas prestasi Timnas U-16. "Ini bentuk tasyakur ya. Saya pribadi juga demikian. Ini buah dari kurikulum sepakbola yang dianggap kontroversial. Faktanya, kurikulum nyeleneh itu kini berhasil menelurkan pemain berprestasi,” katanya.

Mantan Bupati Purwakarta tersebut juga berkesempatan menjadi pengemudi mobil yang memboyong Muhammad Faturrahman dan Yadi Mulyadi. Nama pertama merupakan pencetak gol semata wayang Indonesia ke gawang Thailand. Sementara Yadi, sering meraih gelar top skor dalam berbagai turnamen.

Kepala Dinas Pendidikan Purwakarta Purwanto juga menyampaikan apresiasi khusus. Keberhasilan para pemain ASAD Jaya Perkasa merupakan prestasi seluruh warga Purwakarta. ASAD sendiri merupakan akademi sepakbola yang secara pembiayaan ditanggung pemerintah daerah. "Generasi muda Purwakarta akan terinspirasi. Atas nama Pemkab Purwakarta, kami menyampaikan apresiasi,” katanya.

Sebelum berangkat ke Lisbon, kelima pemain ASAD Jaya Perkasa akan menjalani karantina. Proses ini merupakan bagian dari persiapan dalam rangka menghadapi turnamen Piala AFC U-16. Turnamen tersebut menjadi turnamen puncak di tingkat Asia. "Mulai besok sudah masuk karantina dan berlatih intensif. Ini persiapan menghadapi Piala AFC U-16 pada Oktober 2018. Kita pasang target juara Insya Allah,” ujar Manajer ASAD, Habib Alwi Hasan Syu’aib.

Untuk diketahui, kelima pemain tersebut adalah Muhammad Fajar Faturahman, Yadi Mulyadi dan Hamsa Medari Lestaluhu. Tak ketinggalan, ada nama Muhammad Talaohu dan Ahludz Dzikri. (gan)
Masyarakat Bisa Jatuhkan Sanksi Buat Dewan Malas
Thu, 16 Aug 2018 07:17:00 +0000
KARAWANG, RAKA - Pengamat politik dari Indobarometer Cecep Sopandi menilai, masyarakat layak memberikan sanksi sosial terhadap anggota legislatif petahana yang kiprahnya tidak dirasakan masyarakat.

Diantaranya tidak dipilih lagi pada Pileg mendatang. Sebab, orang-orang semacam itu telah mencederai amanah yang telah diberikan masyarakat. "Enak saja, sudah diberikan kesempatan dipilih jadi dewan, jangankan aktif menyuarakan aspirasi masyarakat di parlemen, mendatangi konstituen pun jarang, bahkan tidak pernah," ujarnya.

Untuk itu, Cecep mengingatkan anggota DPRD yang akan kembali maju. Kata dia, setidaknya ada 3 hal yang menjadi faktor bagi calon legislatif yang ingin maju. Pertama, kedikenalan dirinya di masyarakat. Kedua, mereka disukai oleh masyarakat dan ketiga memiliki logistik yang cukup. "Nah khusus bagi caleg petahana, sebenarnya mereka seharusnya sudah punya modal sosial karena selama mereka menjabat diberikan fasilitas dan anggaran untuk menyerap aspirasi masyarakat yang jadi basis konstituennya," paparnya.

Selain itu, mereka juga punya modal finansial yang cukup, sehingga potensi untuk dipilih kembali sangat besar. Partai politik juga semestinya melakukan evaluasi terhadap kader partainya yang saat ini duduk di parlemen, memberikan sanksi kepada mereka yang selama menjabat tidak aktif dan cenderung malas. "Jangan sampai Partai hanya memikirkan aspek elektoral saja, tapi juga sama-sama membangun kualitas demokrasi ini," tambah dia.

Persoalannya saat ini, berani tidak masyarakat kritis dalam mengawasi calon legislatif di wilayahnya? Bahkan kata Cecep, kalau perlu sebut orang yang tidak pernah menyerap aspirasi masyarakat, tunjuk namanya yang tidak pernah datang ke dapilnya. "Jika itu terjadi, saya yakin anggota dewan yang akan terpilih nanti benar-benar mereka yang dikehendaki masyarakat dan paham mengenai tugas dan fungsinya sebagai anggota DPRD," pungkasnya. (fiq)
Aneh ya.. Pernah Dikecewakan Tapi Mau Milih Lagi
Thu, 16 Aug 2018 07:07:00 +0000
CIKAMPEK, RAKA - Sebagian masyarakat yang kecewa dengan kiprah anggota dewan, memutuskan tidak akan memilihnya lagi. Namun ternyata ada juga masyarakat yang akan kembali memilihnya meski pernah dikecewakan.

Manap, warga Parakan Kecamatan Tirtamulya, yang berprofesi sebagai satpam di salah satu sekolah ini mengaku hanya mengenal satu nama anggota dewan. "Saya taunya Pendi Anwar kalau yang lain nggak tau," ujarnya.

Menurutnya, meski dia pernah dikecewakan, pada Pemilu 2019 nanti akan kembali mendukung dan memilih Pendi sebagai anggota dewan. Kata Manap, dulu dirinya sempat dijanjikan akan diberi bantuan berupa sapi namun tak kunjung datang sampai saat ini. "Ya pilih dia lagi, dulu pernah mau ngasih sapi tapi nggak dikasih. Mungkin tidak di-acc proposalnya," ujarnya.

Warga Pasirmalang, Dadang (25), mengaku tidak mengenal sama sekali anggota dewan yang mewakilinya. "Nggak tau sama sekali saya mah, kalau bupati tau karena sudah beberapa kali ke sini," ujarnya.

Namun begitu dirinya berharap ada anggota legislatif peduli kepada masyarakat, terutama orang-orang yang kondisi ekonominya sangat di bawah dan orang jompo. "Saya senang jika melihat anggota dewan yang menjenguk orang jompo, terus peduli sama masyarakatnya yang sedang sakit. Tapi belum pernah lihat," katanya.

Mesti mengaku belum tahu pelaksanaan pemilu, namun Nanang Rosidin, warga Desa Wancimekar, Kecamatan Kotabaru mengaku, dari sembilan dewan yang ada di dapil 5 hanya kenal dua nama. "Kalau dewan taunya paling H Anda sama Pak Danu," katanya.

Selama ini, lanjut Nanang, para anggota dewan di dapil 5 yang saat ini menjabat belum sama sekali berkunjung ke kampungnya. "Setahu saya gak pernah ada yang datang. Kalau dulu pernah ada, tapi setelah jadi perasaan gak pernah," ujarnya.

Aenun Hayat, warga Desa Pucung, Kotabaru, juga mengaku tidak banyak mengenal nama anggota dewan yang mewakilinya. "Saya taunya 2019 ada pemilihan presiden. Kalau anggota dewan yang tau sih cuma Pak Danu Bakanmaja," ujarnya.

Menurutnya, anggota legislatif tidak begitu penting. Karena dalam kenyataannya, tidak banyak para anggota legislatif yang peduli terhadap masyarakat. "Gak penting lah, toh pada kenyataannya mereka tidak mewakili dan memperjuangkan kita sebagai rakyat kecil. Namanya juga perwakilan rakyat, harusnya mementingkan rakyat dong," katanya.

Di pemilihan nanti, sambungnya, berharap para anggota legislatif yang terpilih adalah orang yang memiliki kemampuan dalam mengurusi pemerintahan dan memiliki keberpihakan terhadap masyarakat. "Minimal yang ngerti, dan yang punya program, kemudian bisa menjalankan program tersebut terutama program yang hubungannya sama masyarakat. Selain itu saya pengen anggota dewan yang tidak susah jika diminta bantuan untuk kegiatan keagamaan," ujarnya.

Kepala PKBM Asholahiyah Cilamaya Kulon Heru Saleh menilai kinerja anggota dewan yang ada belum memuaskan. Katanya, perhatian anggota dewan terhadap dunia pendidikan masih minim.
Heru mengaku tidak semuanya anggota dewan yang mewakilinya ia kenal. "Mungkin saja, karena sosilisasinya belum maksimal," ujarnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Al Burdah Bayur Kidul Cilamaya Kulon KH Aning Amrullah mengatakan, hanya sebagian kecil dewan yang memuaskan. Aning menilai, bisa saja mereka selama ini malu dengan janjinya terdahulu yang belum terpenuhi, sehingga enggan bersilaturahmi dengan masyarakat.

Dia lantas menyarankan caleg inkumben agar tetap bersama rakyat, baik langsung maupun melalui tokoh, baik bertatap muka maupun lewat medsos. "Karena masyarakat berhak tahu, mendapat terimakasih, juga maaf atas program yang sudah dan belum dijalankannya. Sehingga bisa mengedukasi masyarakat agar mereka merasa memiliki semua bentuk pembangunan yang terkabul dimana pun titiknya," harapnya. (cr2/rud)
Nyatanya, Pak Dewan Masih Pilih--pilih Konstituen
Thu, 16 Aug 2018 06:46:00 +0000
KARAWANG, RAKA - Anggota DPRD Karawang adalah milik masyarakat. Wakil rakyat tidak boleh blok-blokan dalam menerima aspirasi masyarakat.

Begitu harapan Agus Muhan (44), warga Cinangoh 2 RT 03/08 Kelurahan Karawang Wetan. "Pendapat saya soal dewan setelah jadi itu adalah milik masyarakat bukan masing-masing dapil yang ada di Karawang, diharapkan kinerja ke depan tidak memilih-milih dapilnya, dalam mengalirkan aspirasi dan lainnya," terangnya.

Pemilihan presiden dan pemilihan legislatif yang akan dilaksanakan tahun 2019 mendatang, sudah sampai di telinga Agus, maka baginya, yang saat ini ramai akan maju pada pileg 2019 baik dewan petahana maupun yang baru akan naik layak untuk diperjuangkan. "Pak Natala, Endang Kurniadin, Suryana, H Cahya, Sri Rahayu, Hitler Nababan, Toto Suripto, Asep Cece Juhandi, Hj Enen Aminah, Asep Nandi Kurniawan dan Derus, bagi saya layak untuk naik lagi sebagai wakil rakyat," ujarnya.

Ia mengatakan, ratusan calon anggota dewan yang saat ini berburu kepercayaan masyarakat, tidak akan membuatnya gelisah asalkan sebagai perwakilan rakyat bisa memberikan kontribusi yang baik untuk Karawang. "Tahun mendatang diharapkan anggota dewan yang jadi, harus melakukan pemerataan pembangunan, karena yang dirasakan masih mementingkan blok-blokan. Jadi tidak ada pemerataan," paparnya.

Samin Miharja (59), warga Kampung Cingoh 1 RT 01/06 Kelurahan Karawang Wetan, berharap wakil rakyat bisa menggunkan aspirasinya dengan baik dan bisa dilakukan secara merata, jangan sampai salah sasaran.

Dia mengaku kenal beberapa anggota DPRD diantaranya Natala Sumedha, Hitler Nababan, Endang Sodikin, dan Sri Rahayu. Meski demikian, ia tidak mengetahui hasil karya dari nama-nama dewan yang disebutkannya tadi. Karena ia menilai mayoritas anggota dewan umbar janji. "Kalau dari dewan yang saya kenal ada yang layak naik lagi, ada juga yang tidak. Sebab ada dewan yang perhatian ada juga yang tidak, kalau orangnya saya tidak mau sebutkan," terangnya.

Ia berharap, ke depan anggota dewan bisa lebih memperjuangan aspirasi masyarakat dan bisa menyalurkan aspirasi secara merata, sehingga pembangunan juga bisa merata. "Ada juga kekecewaan, akibat pembangunan yang didanai oleh aspirasi itu saat ini dirasakan betul tidak meratanya. Mudah-mudahan jika dewan yang baru nanti bisa menggunakan dana aspirasi itu secara merata," paparnya. (apk)
Wakil Rakyat Belum Merakyat
Thu, 16 Aug 2018 06:30:00 +0000
CILAMAYA, RAKA - Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Karawang telah melansir nama-nama bakal calon anggota legislatif yang akan bertarung pada Pemilu 2019. Meski masih berupa daftar caleg sementara, namun dipastikan nama-nama tersebut tidak akan berubah lagi.
Diantara daftar nama-nama tersebut, terdapat nama politisi yang saat ini masih tercatat sebagai anggota DPRD Karawang. Anggota Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Karawang Miftah Farid mengakui, hampir seluruh anggota DPRD Karawang yang menjabat saat ini maju kembali. Namun dia tidak menyebutkan jumlah persisnya. "Hampir semuanya maju lagi, tapi memang ada yang naik ke DPRD provinsi," ujarnya yang dihubungi tadi malam.

Terkait kiprah para anggota dewan yang akan kembali maju lagi, masyarakat punya catatan masing-masing. Ali, anggota BPD Desa Cilamaya mengatakan, meskipun anggota dewan dari daerah pemilihan wilayah Cilamaya ada 8 orang, namun kinerjanya kurang memuaskan. Bahkan menurutnya lebih pantas dibilang gagal. Satu buktinya limbah di Sungai Cilamaya yang tak pernah tuntas dan tidak pernah ada dewan yang mengawalnya.
Begitupun dengan dana apirasi yang Rp 5 miliar per anggota dewan, menurutnya tidak terlalu dirasakan. Umumnya hanya dinikmati tim suksesnya. Dari delapan wakil rakyat yang mewakilinya, dia hanya mengenal dua orang saja, Budianto dari Partai Demokrat dan dr Atta Subagjadinata dari PKS.
Namun begitu, dia menyebutkan tidak akan memilih lagi caleg muka lama. "Dewan yang lama sudah gagal, masa mau kita pilih lagi, karena gak puas ya saya lebih milih yang baru," katanya.
Meski begitu, dirinya masih berharap kepada para caleg pendatang baru yang dikenalnya, seperti Yanto dari Partai Hanura, Sodikin dari Cilamaya dan Aceng dari Perindo.

Warga Lemahabang, Budiharjo juga menilai, delapan anggota dewan yang mewakilinya gagal memberikan pemerataan dana aspirasi infrastruktur bagi masyarakat. Dia juga kecewa karena para wakil rakyat sulit ditemui.
Meski begitu, ada dua anggota dewan yang dikenalnya, H Cita dari PDIP dan Budianto dari Partai Demokrat. "Yang lama susah ditemui, ya ngapain kita milih lagi yang itu-itu juga," kata pengurus Pemuda Pancasila itu tanpa menyebut harapannya kepada wakil rakyat yang akan datang.

Tokoh pendidikan Lemahabang, H Dedeng Huzaeni juga blak-blakan. Dia mengaku tidak puas atas kinerja para anggota DPRD yang mewakilinya. Selain tidak ada kontribusinya, fokus perjuangannya juga tidak jelas untuk siapa. Keberhasilannya pun tidak terukur, karena tidak pernah ada evaluasi.
Mantan kepala SMP negeri ini heran jika ada anggota dewan yang mau maju lagi dengan jargon ingin memperjuangkan masyarakat. "Emangnya kemarin apa saja yang diperjuangkannya?" selorohnya.
Dia juga mengaku tidak kenal semua anggota dewan.
"Gak semua kenal, yang mengenalkan diri juga saat ada maunya saja," pungkasnya.

Warga Cilamaya Kulon, Nurhadi Saputra menilai anggota DPRD hanya milik golongan tertentu. Ini menurutnya, bisa dilihat dari pendistribusian dana aspirasi. Keberadaan wakil rakyat belum sesuai dengan yang diharapkannya. Sektor ekonomi kerakyatan terabaikan. Pembangunan pun masih timpang. Secara pribadi, dirinya hanya kenal satu dua orang saja anggota dewan. "Karena dewan ketika reses ke masyarakat cenderung masih pilih-pilih yang mana wilayah yang dianggap basis terbesarnya. Kadang-kadang, bahkan seringnya, kalau bukan basisnya dilewat karena dianggap tidak akan mendulang suara," katanya.

Ajang Syaeful Khiyar, Kepala SMP Islam Fathonul Burhan Tempuran mengaku lupa dan tidak tahu siapa saja nama anggota dewan yang selama ini mewakilinya. "Seharusnya kalau mereka minat nyaleg lagi bisa lebih merakyat dan memperhatikan rakyat," ujarnya.
Kalau terpilih lagi, harus mau merealisasikan visi misinya. Karena dia yakin visi misi partai semuanya baik untuk kepentingan rakyat. "Yang salah bukan visi misinya, tapi ego individu yang lebih banyak mementingkan dirinya," kata Ajang. (rud)
Duh.. Kepala Dinas Kominfo Karawang Sering Dikerjai
Thu, 16 Aug 2018 06:11:00 +0000
KARAWANG, RAKA - Pengaduan masyarakat yang di tampung Dinas Komunikasi dan Infomatika (Kominfo) melalui SMS gateway ternyata dilaporkan ke bupati setiap bulan. Dari rata-rata pengaduan hal paling banyak yang dikeluhkan adalah masalah pelayanan publik.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Yasin Nasrudin mengatakan itu kepada Radar Karawang, Rabu (15/8). "Hampir semua dinas pelayanannya secara merata dikeluhkan. Dari hal-hal yang dikeluhkan yan paling banyak soal pembangunan infrastruktur," ucap Yasin.
Yasin mengatakan setelah disinggung banyaknya pelaporan masyarakat menyangkut persoalan pelayanan di semua Dinas, termasuk pengaduan masyarakat soal infrstruktur dan sarana pendukung infrastruktur. Terhadap itu Yasin memang tidak menampik.  "Masyarakat tinggal lapor ke kami dan kami setiap bulan melaporkan hasil laporan masyarakat kepada bupati," ujar Yasin.
Masih dikatakan Yasin bahkan selain pengaduan pelayanan di semua dinas, masyarakat terkadang ada juga yang iseng melakukan pengiriman yang justru menyebarkan berita bohong (hoax), dan hal itupun bisa direspon dengan baik oleh kominfo. "Kita selama ini mengacu kepada UU. Biasanya ada juga yang menyebarkan berita hoak, dan kita jawab agar masyarakat jangan menanggapi," ujarnya. (apk)
Satpol PP 3 Kali Razia, tapi Cuma Dapat 19 Orang
Thu, 16 Aug 2018 06:08:00 +0000
KARAWANG, RAKA - Hingga yang kemarin, sudah tiga kali Satpol PP menggelar penertiban. Sayangnya, dari berkali-kali operasi tersebut ternyata cuma 19 orang saja yang berhasil dijaring. Para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) ini terjaring dari sejumlah lampu merah di sepanjang Jalan Ahmad Yani hingga Tanjungpura.
Kabid Trantibum Satpol PP Karawang Dadang Taufik kepada Radar Karawang, Rabu (15/8) mengatakan kegiatan bersih-bersih di jalanan itu dilakukan menyambut HUT Kemerdekaan RI di Karawang. Ia berharap saat momentum itu berlangsung, tidak ada penyandang masalah kesejahteraan sosial yang berkeliaran di lampu-lampu merah dan pinggir jalan.
"Operasi ini kita lakukan untuk menetralkan kota Karawang dari gelandangan dan pengemis serta anak jalanan," tandas Dadang. Dia menambahkan operasi yang dilakukannya mengacu kepada Perda nomer 6 tahun 2011 tentang penyelenggaraan ketertiban, keindahan dan peraturan bupati Karawang nomer 46 tahun 2016 tentang kedudukan, susunan organisasi, tugas fungsi dan tata kerja Satpol PP Kabupaten Karawang.
Masih dikatakan Dadang, pihaknya mengerahkan satu regu anggota Satpol PP dan berhasil membawa 19 orang yang akan diberikan pengarahan. Sebelunya Satpol PP juga mengamankan anak jalanan, gelandangan dan pengemis. "Kita sudah tiga kali melakukan patroli, dan mendapatkan 19 orang anak-anak dan bapak-bapak yang suka mengganggu ketertiban di lampu merah," ujar Dadang.
Dikatakanya Dadang, pelaksanaan penertiban sendiri sudah dilakukan sejak Selasa (14/8) dengan dua kali turun ke jalanan. Petugas berhasil menjaring 13 orang. Mereka rata-rata warga pribumi Karawang. "Ada anak yang sudah sering ketangkap, kita sudah berikan ke dinas sosial untuk tindak lanjutnya kedepan akan seperti apa," ujarnya di aula Satpol PP.
Kata Dadang, degan berhasilnya petugas menjaring pengemis, gelandangan dan anak jalanan di lampu merah dan tempat-tempat keramaian seperti pasar dan persimpangan jalan, mengharuskan Satpol PP untuk terus bergerak terutama di wilayah kota. "Pertama kita jaring 13 orang dan hari ini (kemarin, red) enam orang berhasil kita jaring lagi," ucap Dadang dan mengatakan hasil tangkapannya akan dilaporkan kepada Dinsos dan bupati.
Sementara itu, Amelia (25) pengemis yang terjaring menyampaikan jika dirinya di lampu merah RMK bukanlah untuk mengemis dan mengamen, tetapi sedang menunggu mobil yang akan mengangkutnya ke Johar. "Saya mau pulang mau ngompreng eh tahunya malah ditangkap, saya gak ngamen," ujarnya. (apk)
Anggaran Pilkades Kosong
Wed, 15 Aug 2018 12:50:00 +0000
KARAWANG, RAKA - Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 67 desa terancam terkendala anggaran. Badan anggaran (Banggar) DPRD Karawang mendesak eksekutif melalui Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk meningkatkan pendapatan untuk membiayai pelaksanaan pilkades. Sebab Pemkab Karawang saat ini mengalami defisit anggaran sehingga jika pendapatan tidak ditekan  sulit untuk melaksanakan Pilkades serentak. Padahal tahapan administrasi Pilkades sudah dimulai hingga pelaksanaan pilkades 11 November 2018.

"Kami dari banggar sudah rapat dengan TAPD untuk membahas bagaimana membiayai pelaksanaan pilkades serentak. Kesimpulannya pemkab harus bisa mem-push pendapatannya jika pilkades mau dilaksanakan tahun ini. Posisi keuangan pemkab dari target pendapatan baru mencapai 46,55 persen, namun di akhir triwulan ketiga mereka optimis posisi kas bisa mencapai diatas 50 persen. Kalau posisi kas bisa di atas 50 persen kita bisa anggarkan untuk pelaksanaan pilkades," kata anggota banggar DPRD, Indriyani, Selasa (14/8).

Menurut Indriyani, posisi Pemkab Karawang cukup dilematis karena disatu sisi sudah memutuskan untuk melaksanakan pilkades akhir tahun ini, namun disisi lain posisi keuangan mengalami defisit hingga saat ini. Oleh karena itu DPRD mengajukan syarat agar eksekutif meningkatkan pendapatan. "Potensi pendapatan sebenarnya ada hanya butuh kerja keras saja dari pihak eksekutif. Misalnya dari piutang pemkab yang belum tertagih dari wajib PBB (Pajak Bumi Bangunan) yang mencapai Rp 400-an miliar. Klaim dari pihak TAPD, ada yang berhasil ditagih sekitar Rp 50 miliaran. Sedangkan potensi tertagih piutang ini, mereka (TAPD) punya keyakinan hingga Rp 43 miliar sampai akhir tahun anggaran 2018," katanya.

Indriyani mengatakan, jika benar potensi kas daerah mampu terealisasi sesuai target itu, maka kebutuhan anggaran pilkades sebesar Rp7,9 miliar akan bisa ditanggulangi. Dengan begitu anggaran untuk penyelenggaraan pilkades tidak akan mengganggu anggaran dari OPD yang sudah ditetapkan. "Jadi solusinya memang harus meningkatkan pendapatan sehingga tidak mengganggu anggaran dari OPD lain yang sudah direncanakan sebelumnya," pungkasnya. (asy)
SMPN 2 Dengklok Punya Kepala Sekolah Baru
Wed, 15 Aug 2018 12:30:00 +0000
RENGASDENGKLOK, RAKA- Setelah dinas pendidikan menetapkan rotasi, periodisasi, promosi dan mutasi kepala sekolah, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMP) 2 Rengasdengklok menggelar lepas sambut. Didi Solahudin M.Pd menggantikan kepala sekolah lama Engkos Sarkosih S.Pd, M.Si yang beralih ke SMPN 1 Tirtajaya.

"Sebelumnya saya di SMPN 3 Rengasdengklok, mudah-mudahan dengan sekolah baru ini saya bisa cepat beradaptasi dan menjalankan tugas dengan baik," ujar pria berkumis tebal tersebut, kepada Radar Karawang, Selasa (14/8) kemarin.

Sementara, lanjut Didi, sekolah terdahulunya yakni SMPN 3 Rengasdengklok diisi oleh staf pengajar SMPN 2 Kotabaru yang mendapatkan promosi kepala sekolah.

Menurutnya lagi, persoalan rotasi, periodisasi dan mutasi kepala sekolah merupakan hal yang lumrah dalam ranah pendidikan. Karena, tentunya setiap sekolah membutuhkan penyegaran dan tergantung kapasitas masing-masing. Namun, di mana pun di tempatkan, staf pengajar yang dipromosikan harus siap dengan segala ketentuannya. Hal sama dengan kepala sekolah yang diperiodisasi ataupun yang mutasi. "Kita hanya menjalankan tugas, dan harus selalu siap," ujarnya.

Salah satu staf SMPN 2 Rengasdengklok, Abdul Azis mengatakan, periodisasi, rotasi, promosi, dan mutasi merupakan hal yang lumrah terjadi di suatu sekolah. Dengan adanya kepala sekolah baru pindahan dari SMPN 3 Rengasdengklok ini, ia berharap secepatnya dapat bersinergi dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya. "Saya harap bisa bekerjasama dengan baik," ucapnya. (rok)
Kades Ciptamarga Ngantor Seperti Biasa
Wed, 15 Aug 2018 12:15:00 +0000
JAYAKERTA, RAKA- Kepala Desa Ciptamarga, Cecep Hambali, sebelumnya ramai diperbincangkan karena diduga terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Tim Saber Pungli Polres Karawang, nampaknya cuma isapan jempol belaka. Buktinya, hingga saat ini kepala desa tersebut masih dapat melenggang dan menjalankan aktifitas seperti biasanya. Kabar OTT pertama kali muncul, saat Cecep bersama anggota program keluarga harapan (PKH) dibawa menggunakan mobil patroli, di minta ikut untuk dimintai keterangan dengan kapasitasnya sebagai kades terkait persoalan di desa tersebut. "Saya memang disuruh ikut naik ke mobil patroli polisi Rengasdengklok saat itu, tapi bukan sebagai tersangka OTT. Hanya dimintai keterangan saja oleh pihak saber pungli," ungkapnya, saat di wawancarai Radar Karawang, Selasa (14/8) kemarin di kediamannya.

Dikatakan Cecep, kapasitasnya sebagai Kepala Desa Ciptamarga Kecamatan Jayakerta tidak dapat menolak saat kantor desanya digunakan sebagai tempat rapat program PKH. Selain PKH tersebut merupakan program nasional, PKH juga salah satu program yang dapat memberdayakan sekaligus membantu masyarakatnya. "Kalau untuk rapat silahkan saja, tapi saya gak tau persoalan yang dirapatkan oleh mereka para anggota PKH," ucapnya.

Dirinya menegaskan, jika memang ia ditetapkan sebagai tersangka OTT oleh Tim Saber Pungli Polres Karawang. Tidak mungkin saat ini dapat berbicara dan memberikan penjelasan di luar kantor polisi. "Alhamdulillah sudah selesai," tegasnya.

Hingga saat ini, dirinya menganggap hal tersebut merupakan gejolak pemerintah desa yang tak lepas dari berbagai problematik. Apalagi, pemerintah desa yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. "Kita jadikan pelajaran aja, semoga ada hikmahnya. Dan saya yakin masyarakat lebih bijak dalam menilai," pungkasnya. (rok)
Pembangunan Rutilahu 2 Keluarga Terbengkalai
Wed, 15 Aug 2018 12:00:00 +0000
BATUJAYA, RAKA- 2 pekan setelah dirobohkan, rumah tidak layak huni (Rutilahu) milik 2 keluarga warga Dusun Telukampel 1, Desa Karyamakmur, Kecamatan Batujaya dibiarkan terbengkalai oleh pihak pemborong. Hingga saat ini, hanya pondasi dengan besi selup sambungan yang nampak di tanah milik 2 orang warga tidak mampu tersebut.

Salah satu penerima manfaat rutilahu, Tamin (37), di bangunnya pondasi sejak 2 Minggu kemarin. Hingga saat ini tidak pernah disentuh lagi oleh pemborong. Sejak saat itu, ia terpaksa menggunakan rumah orang tuanya bersama kedua anak dan seorang istri yang sedang hamil. "Udah 2 Minggu begini aja, gak pernah disentuh-sentuh lagi," kata Tamin, kepada Radar Karawang.

Lebih parahnya, bahan bangunan yang akan digunakan untuk bangunan rutilahu tersebut dinilai tidak layak pakai. Seperti halnya pasir, balok kayu, dan cara pemasangannya pun berantakan. "Pasir menggunakan pasir kali, udah kaya pasir laut. Diremes pakai tangan aja ambrol. Yang lebih parah, pemasangannya juga kayak asal-asalan. Masa besi ceker ayam dipatahin, diganti besi selup yang cuma nempel doang," keluhnya.

Warga lainnya, Rohati (53), terpaksa menginap di rumah kakaknya bersama 2 anak yatim yang ia urus bersama menantunya. Kondisi kesehatannya yang sudah lemah dengan kaki setengah lumpuh, ia sangat berharap rutilahu yang ia dapatkan dari program Dinas PRKP tersebut dapat di selesaikan secepatnya. "Saya harap cepet diselesaikan, meskipun kaki udah pada sakit, kalau rumah sendiri mah kan enak," kata Rohati.

Sementara, Kepala Desa Karyamakmur, Hartasim mengatakan, 7 program rutilahu ia dapatkan untuk direalisasikan kepada warga yang memang membutuhkan. 4 diantaranya telah selesai, kualitasnya pun tak banyak dikeluhkan oleh penerima manfaat. "Yang 3 lagi, ini yang banyak dikeluhkan oleh warga saya. Karena pengerjaannya lambat dan tak pernah disentuh lagi," ujarnya.

Dikatakannya, hingga saat ini ia tidak tahu siapa yang mengerjakan rutilahu di desanya tersebut. Karena, tak pernah ada laporan atau sebatas izin kepada pihak pemerintah desa. "Saya gak tahu siapa yang mengerjakan, karena gak ada izin ke desa," jelas kades yang biasa di sapa Ipung tersebut.
Dirinya berharap kepada pihak pemborong, agar secepatnya menyelasaikan tugasnya dalam mengerjakan atau menyelesaikan rutilahu. Karena melihat kondisi warga yang dinilai sangat membutuhkan. "Saya harap segera diselesaikan," pungkasnya. (rok)

rssfeedwidget.com